Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang
menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari, hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
1943
Labels: Puisi
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Labels: Puisi
Puisi Indonesia hari ini sedang terancam dekadensi. Hanya segelintir saja dari penyair Indonesia masa kini, masa komunikasi dan over-demokrasi ini, yang mampu terus berkarya dengan konsistensi dalam gelanggang yang semakin berubah.
Aku bangkit dari kuburku di Karet. Kuobrak-abrik pusara batu menjijikkan itu, dan kuusir cacing-cacing tanah dari jasadku (aku terlalu mulia untuk mereka), dan aku datang lagi ke gelanggang puisi Indonesia hari ini, sebagai penyelamat.
Aku datang untuk menyelamatkan harga diri sastra Indonesia.
Ttd
Chairil Anwar
Labels: Perkenalan
