oleh Ridwan Munawwar

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Ku tetap meradang, menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari, berlari
Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(1943)

Saya yakin betul: puisi serius yang pertama kali saya baca waktu kecil adalah puisi karya satu-satunya penyair Indonesia yang patungnya dipajang di depan Monumen Nasional: Chairil Anwar. Bertemu dengan puisi-puisinya, tentu saja di sekolahan (SD). Saat itu sekitar tahun 1994-an. Saya lupa lagi, kelas berapa saya waktu itu. Puisinya yang saya kenal pertamakali adalah “Krawang-Bekasi”, setelah itu saya kenal juga dengan puisi “Dipenogoro”.

Perasaan saya terhadap puisi Chairil saat itu memang bukan kekaguman, sebab bagaimana anak kecil seperti saya tahu puisi? Tapi naluri saya cukup dapat menangkap sesuatu yang lain pada karya itu; hening dan kelam. Hampir tak dapat dilukiskan. Sebuah suasana lain dan baru yang berporos pada sesuatu yang sama dari yang disajikan oleh bacaan-bacaan saya umumnya pada masa itu; cinta bangsa, cinta Indonesia. Majalah anak “Si Kuncung”, novel-novel anak dan remaja keluaran Balai Pustaka semacam “Anak-anak Laut”, “Anak Laut Kembali Ke Laut”, cerita-cerita pahlawan, dan masih banyak lagi bacaan semacam itu yang rata-rata saya curi dari perpustakaan SD.

Bila bacaan-bacaan itu menanamkan rasa cinta Indonesia dalam nuansa bahasa yang akrab dengan dunia anak-anak, maka kehadiran aura puisi Chairil adalah penanda tertentu dari waktu “perasaan zaman” saya untuk masa yang akan datang. Jadi ia memang futuristik, setidaknya saya merasakannya dalam sejarah pribadi saya sendiri. Dan saya kira bukan tanpa maksud pula bahwa karya-karya Chairil dimasukan ke dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD dulu.

Menginjak masa SMP, karya-karya Chairil yang saya kenal selanjutnya adalah puisi “Aku”. Meski samar, namun sempat terbetik keheranan dalam benak saya; bagaimana mungkin ada orang yang demikian jujur dan lugas (atau mungkin bangga) mengaku dirinya “binatang jalang”, apalagi “dari kumpulannya yang terbuang”. Kata-kata “jalang” dan semacamnya adalah hal yang saya pikir tabu atau kurang sopan. Tentu saja, sebab saya terdidik di dalam ruang masyarakat sunda yang penuh dengan tata norma moral yang lumayan ketat. Meski demikian, saya agak mengerti juga bahwa itu metafora atau konotasi. Nah, momen mengenal metafora itu mau tidak mau menciptakan kontradiksi tertentu dengan ingatan didikan normatif dalam benak saya.
Maka saya mulai menilai bahwa Chairil ini orang yang aneh, yang kontroversial terhadap karakter bangsa Indonesia yang konon memuja adat dan pakem norma itu.

Tapi anehnya lagi, kok bisa ya orang yang aneh macam ini karyanya dijadikan kanon dalam kesusasteraan nasional negara kita ini? Apa yang sesungguhnya terjadi? Mungkinkah Chairil memang—seperti yang sering diungkapkan Kahlil Gibran tentang puisi dan penyairnya—telah melampaui zamannya?

Sebab mungkin nilai neologis dari sebuah puisi erat kaitannya dengan watak sintesa budaya yang puisi itu sendiri. Para kritikus sastra kawakan bilang, dalam puisi Chairil terdapat guratan dari watak rasionalisme Barat, juga memiliki kecenderungan watak eksistensialistik. Di tangan Chairil, bahasa dan sastra Indonesia menemukan jeda kedewasaannya dengan membaca karakter budaya lain, yakni Barat tadi.

Dan dalam kontkes yang paling sederhana, watak khas puisi Chairil yang terbilang baru dan agak “nyeleneh” itu menyimpan isyarat tersendiri yang tentunya merupakan suatu kontribusi bagi pertumbuhan kepribadian manusia-manusia Indonesia.

Tapi saya tidak tahu dengan pasti apa sebenarnya yang dibaca dengan cermat oleh Chairil dari dunia Barat. Yang saya rasakan, puisinya justru mencandra ke dalam “sesuatu bernama Indonesia” dengan suatu semangat baru yang sarat dengan harapan eksistensial yang resah, kelam namun juga jujur dan melegakan.

Maka saat duduk di SMA, saya bertemu dengan novel “Kepundan”—entah siapa pengarangnya—yang saat itu dimuat bersambung di harian Republika, saya mulai tahu apa yang disebut “cara pandang” dan “kekuatan individu”. Dalam novel itu diceritakan seorang tokoh siswa SMA bernama Ivan Illich yang menentang gurunya yang menuduh bahwa puisi “Aku” Chairil Anwar adalah puisi yang jelek, terutama untuk kalangan pemuda lantaran semangat individualistiknya yang bisa membuat para pemuda menjadi a-sosial. Maka sang tokoh pun maju ke depan kelas seraya membacakan puisi “Aku” itu dengan suatu deklamasi yang “beda” dan elegan serta kemudian bertanya secara retoris kepada gurunya “nah, dimana letak nilai individualistiknya?”.

Jadi watak individualitas apa yang sesunguhnya yang dihembuskan oleh nafas puisi Chairil itu?
Entah mengapa saya tiba-tiba teringat pada konsep individu pada zaman romantik Eropa, yakni individu sebagai subjek yang memiliki suatu universalitas di dalam dirinya. Individu yang “menyemesta”, sehingga dirinya mampu menjadi pucuk dari kehidupan komunitas sosialnya.
Dan untuk periode hidup saya yang sekarang, saya ingin memiliki semangat dan keteguhan seperti itu. Meski mungkin saya barulah sekedar “pelajar puisi”. Dan saya yakin, tidak mustahil ruh puisi semacam itu bisa hadir dan tumbuh dalam sejarah hidup saya. Puisi yang tidak harus dengan kata-kata tentunya.

(Jakarta, 28 April 2008)

0 Comments:

Post a Comment



Newer Post Older Post Home