<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902</id><updated>2011-04-21T19:54:05.152-07:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Perkenalan'/><category term='Mereka Mengenangku'/><title type='text'>Chairil Anwar</title><subtitle type='html'>Akulah Puisi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902.post-4126916335624594721</id><published>2008-04-27T15:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-27T15:21:30.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mereka Mengenangku'/><title type='text'>Chairil Anwar: Pintu-pintu Pengakuan</title><content type='html'>&lt;span class="”fullpost”"&gt;oleh &lt;a href="http://koran-marjinal.blogspot.com/2008/04/chairil-anwar-pintu-pintu-pengakuan.html"&gt;Haska&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULUHAN tahun yang lalu, ketika masih menjadi anak baru gede dalam pergaulan-hidup seniman, saya selalu tergoda menanyakan tentang si Binatang Jalang, kepada seniman yang berhubungan langsung dengan Chairil Anwar pada zamannya. Saya mendatangi pelukis Nashar di Balai Budaja, Jakarta. Nashar cukup lama tertegun sambil menghisap rokok berkali-kali, seperti memandang sebentang layar-hidup yang memutar pertemuannya dengan Chairil. Tapi sebelum memberikan jawaban, ia ngeles, balik bertanya; Bagaimana menurutmu? Kami biasanya gelagapan. Seorang seniman yang nimbrung dan cukup percaya-diri menilai bahwa pencapaian dalam sajak-sajak Chairil berkat derita dalam hidupnya, sama persis dengan pencapaian Nashar dalam melukis, karena, hidup berlumur penderitaan. Nashar dengan cukup sabar mendengar omongan sang seniman yang terus nyerocos dalam kalimat-kalimat panjang, bahkan membandingkan derita Nashar dengan derita Vincent Van Gogh, pelukis lunatik dari Belanda, yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sang seniman kehilangan kata-kata, Nashar hanya tersenyum, lalu berkata; Itu kan anggapanmu! katanya sambil terkekeh-kekeh dan kembali mereguk birnya. Seingatku pelukis Nashar cuma bilang bahwa besar derita hidup seseorang bukanlah jaminan untuk melahirkan karya-karya besar. Seorang Chairil Anwar berusaha mengasah diri dengan membaca karya-karyar sastra dunia. Dia sangat intens dalam mencipta. Intensitas yang tinggi itu, disamping intelektualitasnya, yang mengantarkannya pada pencapaian tertinggi dalam berkarya. Banyak orang salah sangka. Mengira Chairil hidup bagaikan gelandangan. Penampilan Chairil sangat jauh dari anggapan orang kebanyakan-- yang kelak menjadi stereotype seorang seniman-- rambut panjang, berpakaian lusuh dan urakan. Sebelum menderita sakit-sakitan, Chairil Anwar adalah sosok perlente. Pakaiannya diseterika necis, bahkan begitu necis, untuk sebuah zaman revolusi, ketika orang-orang cemas menyelamatkan diri mengungsi dengan pakaian rombeng. Boleh jadi, Chairil adalah seorang hedonis radikal. Ia selalu tampak di lantai dansa bersama noni-noni Belanda. Pergaulannya melintas batas. Dari orang gedongan sampai gembel dan pelacur pinggir rel Bongkaran, dekat stasiun Tanah Abang. Ia semakin memahami hidup. Ia sangat intens menangkap kenyataan pergaulan-hidup ke dalam sajak-sajaknya. Jadi, kaitan derita Chairil dan pencapaian dalam bersajak, adalah sebentuk mitos yang selalu ditiupkan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, demikian Nashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil Anwar pun selalu dikait-kaitkan dengan pergaulannya dengan perempuan, yang dianggap memberinya ilham untuk menulis sajak. Vitalitas Chairil bisa saja ditelusuri dalam sajak maupun dalam teks sebuah poster, Bung! Ayo, Bung! karya Affandi. Suatu pagi, Affandi kehilangan akal untuk memberi jargon pada posternya. Affandi semalaman begadang, duduk di depan poster dengan model pelukis Dullah yang menjerit meronta melepaskan belenggu rantai di tangannya. Ia ketar-ketir. Karena Bung Karno memberi tenggat sebelum tengah hari, poster harus dicetak dan disebarkan ke front dan pelbagai pelosok daerah. Chairil Anwar yang baru saja begadang di bilangan Bongkaran, Tanah Abang, hendak menumpang tidur, bertemu Affandi. Affandi bertanya teks apa yang cocok untuk poster itu. Begini, kata Chairil, Bung! Ayo, Bung!&lt;br /&gt;Kata-kata itu, konon, pun digunakan para pelacur di bilangan Bongkaran ketika mengajak pelanggan yang datang untuk menikmati senggama. Itulah Chairil. Pergaulannya melintas batas. Dari nona gedongan sampai pelacur Bongkaran. Walau Chairil sohor sebagai womanizer, tetapi ia tidak pernah melecehkan perempuan, apalagi tersangkut pelecehan seksual. Chairil memilih bergaul dengan pelacur di Bongkaran untuk melampiaskan petualangannya. Bahkan, bukan sekadar petualangan. Ia bergaul, begitu gaul. Bersahabat dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan-hidup yang satu ini, sahabat Chairil semenjak dari kota Medan, HB Jassin, mengaku terlambat, begitu terlambat, memahami sisi kehidupan yang lain ini. HB Jassin, seorang pendiam dan tertib. Berlawanan dengan karakter Chairil Anwar, yang slebor dan sontoloyo. Tetapi berpuluh tahun kemudian, HB Jassin merasa menyesal, karena mengenal dunia pelacur ketika telah berangkat dewasa di Jakarta, di bilangan Planet Senen. Sehingga Jassin begitu memahami liku dan lekuk kehidupan Planet Senen yang digambarkan pula oleh Ki Panji Kusmin dalam Langit Makin Mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah digerogoti TBC, Chairil Anwar mulai abai merawat diri, tapi makin gencar menulis sajak. Sajak-sajaknya, seperti Yang Terhempas Dan Yang Luput, semakin kelam tetapi dalem. Ia menyongsong ajal. Penyakit yang ditabung dalam badan, semakin menyiksa. Chairil acapkali terlihat menemui pamannya, Sutan Sjahrir yang Perdana Menteri itu. Kepada sang paman, Chairil meminta sejumlah uang. Kalau nggak dikasih, ketika sang paman meleng, Chairil mencuri arloji Sjahrir yang tergeletak di meja kerjanya. Sjahrir agaknya sangat prihatin melihat gaya hidup keponakannya, yang bohemian itu, walau ia pun pernah mereguk hidup sebagai bohemian dalam lingkar seniman dan sastrawan ketika belajar di Negeri Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal jurus Chairil dalam menjelajah literatur adalah dengan mencuri buku (di toko buku atau perpustakaan USIS) atau meminjam buku kepada HB Jassin dan Mochtar Lubis (tanpa mengembalikannya). Saya sering mendengar, apabila seseorang menjalankan amalan itu, pasti menyebutnya sebagai Jurus Chairil. Puluhan tahun yang lalu, sebelum ada jagat maya internet, segala literatur dari mancanegara begitu sulit, sangat sulit, bisa nyangkut di tangan kita. Sering terjadi kesenjangan komunikasi dan wacana, ketika seniman/sastrawan yang begitu obral obrol dan menguar-uar literatur Barat (dan kemudian Amerika Latin). Beberapa kata kunci yang nyangkut di benak langsung disusul dengan pelbagai Jurus Chairil. Beberapa perpustakaan pusat kebudayaan asing pun menjadi target. Beberapa antologi puisi, novel dan buku filsafat post-strukturalis langsung berpindah dari rak-rak di ruangan sepi itu, ditilep menjadi aset kita. Tak lama kemudian menyebar lewat fotokopian. Orang tentu bisa bilang, ini kerjaan tak terpuji, tapi begitulah kenyataannya. Buku-buku sastra mutakhir hanya beredar di kalangan tertentu, yang mempunyai bujet besar untuk membeli buku per bulan. Kebanyakan seniman di negeri Dunia Ketiga, mempunyai cara tersendiri... mencuri dari perpustakaan Dunia Pertama.&lt;br /&gt;Lebih baik mencuri dari meminjam, kata TS Elliot yang sering diucapkan Chairil Anwar bisa kita rasakan hikmahnya dalam bentuk yang lain, sekarang ini. Tapi hati-hati, kalau ketahuan Anda mencuri buku (karena di setiap perpustakaan kini ada alarmnya) jangan kalian bawa-bawa nama penyair pelopor Angkatan 45 itu.&lt;br /&gt;Hari ini, 28 April, kita masih tetap tergugah memperingati kematian Chairil Anwar, yang sekaligus menjadi Hari Sastra Nasional. Sajak-sajak Chairil Anwar --yang telah teruji oleh perjalanan waktu-- mampu membuka pintu-pintu kemanusiaan, yang memandang kehidupan dengan lebih manusiawi. Sosok Chairil Anwar, paling tidak, membuka pintu-pintu pengakuan beberapa persona pada zamannya, dan zaman kita, di Negeri Dunia Ketiga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4572732568296581902-4126916335624594721?l=chairilanwarindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/4126916335624594721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4572732568296581902&amp;postID=4126916335624594721' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/4126916335624594721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/4126916335624594721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/2008/04/chairil-anwar-pintu-pintu-pengakuan.html' title='Chairil Anwar: Pintu-pintu Pengakuan'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902.post-3271871588952492335</id><published>2008-04-27T15:00:00.000-07:00</published><updated>2008-04-27T15:03:21.112-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mereka Mengenangku'/><title type='text'>Jejak Si Binatang Jalang dalam Catatan Seorang Pengigau</title><content type='html'>&lt;span class="”fullpost”"&gt;Oleh &lt;a href="http://jejakpengelana.blogspot.com/2008/04/jejak-si-binatang-jalang-dalam-catatan_28.html"&gt;Yusrianto A. Elga&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Chairil Anwar dalam sejarah perpuisian Indonesia sangatlah singkat. Di usianya yang ke 27 tahun, tepat pada tanggal 28 April 1949, ia sudah tutup usia. Sejumlah karya-karya sastra Chairil kemudian ditabalkan sebagai “pengabdian besar” untuk bangsa dan tanah air. Walaupun, tentu saja, Chairil sendiri merasa “tidak puas” dengan pengabdiannya yang terbilang pendek itu. Sebab sebagai penyair, ia menyimpan obsesi yang lebih tinggi dari sekedar yang kita tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil adalah salah satu penyair terbesar yang dilahirkan di negeri ini. Karya-karyanya, terutama puisi, menjadi inspirasi sejumlah penyair baik pada masanya hingga saat ini. Saya mengenal Chairil sejak duduk di bangku SMP (walaupun sebenarnya ketika di Sekolah Dasar saya sudah mendengar namanya). Perkenalan itu pun lewat guru Bahasa Indonesia saya yang tiap kali masuk kelas sering membacakan puisi-puisi Chairil, seperti Aku dan Senja di Pelabuhan Kecil. Puisi ini memang sangat menghibur para siswa saat itu, walaupun sesungguhnya di antara kami kurang begitu memahami dengan sempurna. Namun, lewat apresiasi itulah setidaknya kami diantarkan menuju suatu dunia di mana pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan salah satunya bisa ditempuh dengan menulis dan mengapresiasi puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan karya-karya Chairil memang tidak lantas membuat saya bercita-cita mengikuti jejaknya, sebagaimana yang ditempuh oleh sebagian teman-teman saya yang lain. Dalam perkembangan selanjutnya, saya hanyalah apresiator yang seringkali gugup ketika disuruh membacakan puisi-puisi Chairil di pentas-pentas atau acara-acara resmi di sekolah kami dulu. Kata mereka, saya tidak bakat. Pemalu dan ada juga yang bilang pengigau. Namun demikian, terlepas dari semua itu, saya tetap berkeyakinan ihwal pertautan hati yang begitu intim antara Chairil dengan para pencintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun di antara kita yang pernah membaca puisi-puisi Chairil, tentunya dengan pemaknaan yang arif dan kejernihan pikiran, pasti akan merasakan pertautan itu. Ada semacam getar-getar ruhani yang sulit dibahasakan. Itulah sebabnya saya berkeyakinan bahwa Chairil menulis puisi semata-mata dengan semangat ketulusan, sebentuk pengabdian kepada sesama manusia. Usia yang pendek tidak menjadi masalah untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa. Meminjam bahasanya Evangeline Booth (1865-1950), “Bukannya seberapa banyak tahun yang telah kita jalani yang membuat hidup berarti, tapi apa yang kita lakukan dalam tahun-tahun tersebut. Bukannya apa yang kita terima yang bermakna, tetapi apa yang kita berikan untuk orang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil, dalam mencipta karya-karyanya, saya kira juga demikian. Sehingga sampai saat ini, tak heran jika penyair yang dijuluki “Si Binatang Jalang” itu tetap – dan memang pantas untuk – dikenang oleh masyarakat pencinta sastra khususnya di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu puisinya yang berumbul Persetujuan dengan Bung Karno (1948), sangat jelas bagaimana komitmen si aku lirik untuk memosisikan diri pada barisan terdepan dalam rangka merealisasikan perjuangan kebangsaan yang belum final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji&lt;br /&gt;Aku sudah cukup lama dengar bicaramu&lt;br /&gt;Dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu&lt;br /&gt;Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945&lt;br /&gt;Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu&lt;br /&gt;Aku sekarang api aku sekarang laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat&lt;br /&gt;Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar&lt;br /&gt;Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &amp;amp; berlabuh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil memang bukan satu-satunya penyair dalam sejarah negeri ini yang mempunyai spirit perjuangan demi tegaknya cita-cita kemerdekaan. Baris-baris puisi di atas bagaimana pun setidaknya menjadi bukti penegasan Chairil ihwal pentingnya perjuangan melawan segala bentuk penindasan dan juga keberpihakannya pada rakyat yang selalu dijadikan budak-budak penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui puisi Chairil ingin mengabdi. Melalui puisi Chairil ingin membebaskan bangsa. Melalui puisi pula Chairil ingin berbagi. Puisi, dengan demikian, bagi Chairil bukan semata medium ekspresi berkesenian yang melulu bertumpu pada semangat estetis. Tetapi juga sebagai medium penegasan eksistensial di mana kerja-kerja kemanusiaan menjadi landasan pijaknya. Jika tidak demikian, tak mungkin Chairil menegaskan pada Bung Karno bahwa “Kau dan aku satu zat satu urat”: suatu penegasan yang merepresentasikan kejantanannya dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan Chairil sebagaimana yang telah saya jelaskan di awal tulisan ini, hanya bermula pada apresiasi karya-karyanya. Tidak lebih. Bahkan sangat jarang – untuk tidak mengatakan tak pernah sama sekali - guru Bahsa Indonesia saya bercerita panjang lebar ihwal perjalanan kenyairan Chairil yang lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922 itu. Andaikan guru Bahasa Indonesia saya dulu membedah karya sekaligus penulisnya, mungkin ada kesan yang lain dari sekedar pembacaan-pembacaan “sederhana” yang jauh dari kata “menggugah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi walaupun demikian, jujur, melalui apresiasi sederhana itulah ternyata ada berkah tersendiri yang tidak pernah saya duga-duga: di luar bangku sekolah saya menemukan sedikit jejak Chairil yang sebenarnya, yakni sebagian dari buku-buku yang ditulis Chairil sendiri dan juga buku-buku yang menulis kiprah Chairil di jagat kepenyairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Chairil yang kini berada di alam keabadian, saya kirimkan sebuah salam:&lt;br /&gt;Bikinkan aku sebuah puisi&lt;br /&gt;dari sekedar penghibur&lt;br /&gt;kelak ketika mayatku dikebumikan&lt;br /&gt;akan kujadikan sebagai talkin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 April 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4572732568296581902-3271871588952492335?l=chairilanwarindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/3271871588952492335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4572732568296581902&amp;postID=3271871588952492335' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/3271871588952492335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/3271871588952492335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/2008/04/jejak-si-binatang-jalang-dalam-catatan.html' title='Jejak Si Binatang Jalang dalam Catatan Seorang Pengigau'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902.post-3588689292964342281</id><published>2008-04-27T14:58:00.001-07:00</published><updated>2008-04-27T14:59:42.519-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mereka Mengenangku'/><title type='text'>Kereta</title><content type='html'>&lt;span class="”fullpost”"&gt;oleh &lt;a href="http://pejalanjauh.com/2008/04/kereta.html"&gt;Zen Rahmat Sugito&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Mengenangmu, Ril….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa sajak ini begitu imajinatif menggambarkan rasa pedih dan perih. Rasa pedih dan perih itu serasa diuraikan satu per satu, perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran, mungkin seperti mengupas kulit ari selapis demi selapis. Fakta bahwa uraian imajinatif ihwal rasa pedih dan perih itu digambarkan melalui metafora “kereta”, moda transportasi yang begitu saya sukai, makin membuat sajak itu punya tempat tersendiri dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang (akan) membicarakan sajak Chairil Anwar yang berjudul “Dalam Kereta”, salah satu sajak Chairil yang mungkin amat jarang dikenal orang, kalah jauh terkenal dari sajak “Aku”, “Krawang-Bekasi”, atau “Senja di Pelabuhan Kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini termuat dalam antologi sajak Chairil yang berjudul “Kereta Api Penghabisan”. Anda mungkin baru mendengar antologi itu. Jangan khawatir, bukan hanya Anda saja yang baru mendengar. Entah siapa orang yang masih punya cetakan antologi itu. Kabarnya, antologi itu hilang di rimba yang entah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sajak “Dalam Kereta” adalah satu-satunya sajak yang “terselamatkan” dari antologi “Kereta Api Penghabisan” – yang kehilangannya oleh Saut Situmorang disebut sebagai “moksa puitis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ saja sudah muncul satu koinsidensi yang menarik. Apa yang bisa kita takik dari kenyataan bahwa satu-satunya sajak dari antologi “Kereta Api Penghabisan” yang raib ternyata berjudul “Dalam Kereta”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua judul itu, satu judul antologinya dan satunya lagi judul salah satu sajaknya, sama-sama memuat kata “kereta”. Saya ingin berandai-andai, mungkin Sang Maha Puisi memang sengaja (hanya) menyelamatkan sajak “Dalam Kereta” dari –jika istilah Saut bisa dikutip lagi-- “moksa puisi”, dari keraiban. Jika pengandaian puitik itu benar, bisakah itu dibaca sebagai kemungkinan bahwa (jangan-jangan) sajak “Dalam Kereta” memang bisa merepresentasikan isi antologi “Kereta Api Penghabisan”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Saya tak ingin melanjutkan pengandaian yang amat bisa jadi meleset itu. Tapi untuk satu hal ini saya tak sedang berandai-andai. Begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun antara 1945-1949, salah satu penggal kehidupan Chairil yang penuh nyala api kreatifitas (Chairil check out dari muka bumi pada 28 Februari 1949), kereta punya tempat yang istimewa dalam korpus kesadaran dan ingatan kaum republiken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno-Hatta, pada awal Januari 1946, pindah ke Jogjakarta dengan mengendarai sebuah kereta malam melalui sebuah perjuangan yang dramatis. Kereta berhenti di dekat kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur –mungkin di sekitar stasiun Cikini sekarang—selepas maghrib. Soekarno-Hatta dan keluarganya berikut sejumlah pejabat republik sudah bersiap di kediaman Sokarno. Begitu kereta datang, mereka naik kereta malam tersebut. Dari Jakarta hingga Bekasi, kereta bergerak tanpa satu pun lampu dinyalakan untuk menghindari penciuman intelijen Belanda. Kereta akhirnya tiba di Stasiun Tugu keesokan harinya dan Sultan Hamengkubuwana IX sudah menyambut di ujung peron. Kisah Jogjakarta menjadi ibukota di mulai dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sjahrir, yang waktu itu menjabat Perdana Menteri, untuk sementara masih tinggal di Jakarta. Untuk pergi-balik Jakarta-Jogja, Sjahrir punya kereta khusus. Ben Anderson, dalam disertasinya yang sudah menjadi klasik, “Revolusi Pemuda” – pernah menggunakan metafora “kereta Sjahrir” itu untuk menunjukkan pola diplomasi dan kecenderungan politik Sjahrir yang sukar ditebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara dari Divisi Siliwangi yang hijrah ke kantung-kantung Republik di Jawa Tengah dan Jogjakarta, diangkut dari Cirebon (tepatnya di stasiun Parujakan yang khusus melayani barang dan penumpang yang menuju jalur utara via Tegal dan Semarang) dengan mengendarai kereta. Mereka juga turun di Stasiun Tugu dengan disambut gadis-gadis palang merah yang mengelu-elukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dari situlah Ismail Marzuki pernah menciptakan lagu “Sepasang Mata Bola”. Lagu syahdu itu juga menyebutkan kereta dan Jogja –pastilah itu merujuk Stasiun Tugu. Kita simak salah satu petikannya: “Hampir malam di Jogja/ Ketika keretaku tiba/ …Sepasang mata bola/ Gemilang murni mesra/ Telah memandang beta/ Di stasiun Jogja/ Sepasang mata bola/ Seolah olah berkata/ Pergilah pahlawanku….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak ada adegan yang lebih menyedihkan daripada tragedi yang di negeri Belanda terkenal dengan sebutan “De Trein vande Dood” alias “Gerbong Maut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi ini bermula sewaktu Belanda hendak mengevakuasi 100 orang yang dicurigai sebagai bagian dari gerakan nasionalis dari penjara Bondowoso ke penjara Kalisosok di Surabaya pada 23 November 1947. Mereka dimasukkan ke dalam 3 gerbong. Kereta berangkat dari Bondowoso pada pukul 3 dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti gerbong yang membawa tahanan NAZI ke kamp Auschwitz, gerbong-gerbong itu pun ditutup rapat dan minim ventilasi. Selama perjalanan sepanjang 13 jam, tahanan tak pernah diberi makan dan minum, gerbong tak pernah dibuka dan diperiksa. Sesampainya di Surabaya, begitu gerbong dibuka, ternyata 46 orang tahanan kedapatan tewas karena dehidrasi dan kehabisan oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cerita dalam “Percikan Revolusi + Subuh”-nya Pramoedya pernah dengan baik menggambarkan bagaimana suasana kereta pada masa revolusi yang dipenuhi hiruk-pikuk perempuan bakul beras yang rela dijamah-jamah kondektur agar dapat korting atau malah gratis. Hal yang sama diulang kembali oleh Pramoedya sewaktu menulis novel perang berjudul “Di Tepi Kali Bekasi” dengan protagonis bernama Farid, pemuda penuh semangat nasionalis namun tak cukup punya pengertian yang utuh ihwal apa dan akan berakhir seperti apa dan di mana perjuangan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil sendiri amat sering naik kereta. Jiwa petualangan dan keluyuran Chairil, hanya bisa disalurkan dengan mengendarai kereta api, terutama jika ia hendak pergi ke kota-kota di daerah timur. Salah satu cerita terkenal tentang kelakuan Chairil adalah sewaktu ia naik kereta ke Surabaya untuk –dalam koar-koarnya—berjuang dengan Arek-arek Suroboyo. Ternyata, salah seorang yang mengenal Chairil, menjumpai Chairil sedang asyik masyuk di salah satu gerbong kereta dengan seorang perempuan di sekitar masa digelarnya pertempuran Surabaya yang dimulai pada 20 November.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Chairil sendiri banyak ditulis digerbong-gerbong kereta untuk menyemangati para pemuda revolusioner. Kata-kata itu berbunyi: “Boeng, Ajo, Boeng!” Padahal, kata-kata itu dicomot begitu saja oleh Chairil dari sapaan khas para pelacur di Senen sewaktu menawari pria-pria hidung belang untuk “ngamar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kereta menempati posisi yang istimewa dalam sejarah perjuangan pada masa revolusi, periode di mana Chairil sedang benar-benar menikmati masa puncak kreativitas dan elan vitalnya sebagai penyair dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi “Kereta Api Penghabisan” mungkin dipersembahkan Chairil untuk mengenang semua peristiwa di atas kereta yang dialaminya, disaksikannya langsung atau sekadar didengarnya. Tengara itu –mungkin—cukup masuk akal karena Chairil dikenal sebagai orang yang tampak begitu terobsesi dengan hidup dalam semua bentuk dan penampakannya. Sajak-sajak Chairil seperti berhulu dari realitas yang terjadi di sekitarnya, rekaman atas pengalaman hidup yang dialami salah satu atau salah lima inderanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pun benar begitu, anehnya, sajak “Dalam Kereta” sendiri rasa-rasanya sepenuhnya beraura muram, mencucuk, dan –jika saya membayangkannya—kadang bisa membuat gigil. Kendati semua barisnya diakhiri dengan huruf “a”, yang biasanya lebih memungkinkan munculnya aura yang terang, sajak itu terasa mencekam. Ada suasana pengap di sana, ada aura penantian atas sesuatu yang tak pasti tapi sepertinya sesuatu yang mengerikan atau menyakitkan, dan ada sejumput rasa sakit yang perlahan-lahan makin terasa kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak “Dalam Kereta” dibuka oleh dua baris berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kereta&lt;br /&gt;Hujan menebal jendela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua baris itu langsung menyajikan suasana terkurung –mungkin(?) juga pengap. Chairil menggambarkan suasana yang dikurung oleh dua lapisan sekaligus: sudah berada (1) di “dalam kereta”, ealah…. (2) masih pula keretanya diguyuri hujan yang “menebali jendela”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak semua penumpang yang berada dalam kereta yang ditebali hujan lebat akan merasakan suasana pengap dan muram. Penumpang yang sedang jatuh cinta atau yang baru saja naik pangkat akan tersenyum-senyum dan menikmati rinai hujan di luaran sebagai simfoni indah yang berdentang dalam dada. Hanya saja, baris-baris berikutnya –sehemat saya—lebih menunjukkan aura mencekam ketimbang riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang, Solo? Makin dekat saja&lt;br /&gt;Menangkup senja&lt;br /&gt;Menguak purnama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya, dua baris berikutnya dari sajak ini menunjukkan bahwa kereta yang dimaksud sedang menuju Semarang dan/atau Solo. Tapi, kenapa di situ Chairil menyebutkan dua kota tujuan sekaligus? Kenapa tidak salah satu saja? Yang mana yang benar? Adakah Chairil sedang menggambarkan kebingungan menentukan tujuan? Atau memang belum tahu tujuan? Tak bisa tidak, suasana ketidakpastian sudah menelisut di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati belum jelas dan pasti kota apa yang dituju, Chairil sepertinya sudah cukup jelas punya tujuan dari perjalanannya yaitu hendak “menangkup senja” dan “menguak purnama”. Mungkin senja akan ditangkup di Semarang sementara purnama akan dikuak di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, di situ Chairil menunjukkan satu target atau obsesi (“menangkup senja” dan “menguak purnama”). Tapi, target atau kehendak itu rasanya sedikit aneh dalam kosa kata sajak-sajak Chairil. Biasanya, atau lebih banyak, Chairil menguarkan obsesi dan tekad dengan bahasa yang lugas, tegas dan seringkali seperti hentakan dari ujung sebuah orasi yang menggelegar, macam: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek dari target atau obsesi atau tekad itu ternyata “senja” dan “purnama”; dua hal abstrak yang seringkali dirujuk untuk menggambarkan suasana hati yang teduh, indah, pendeknya jauh dari sesuatu yang hiruk-pikuk, menggelegar atau tantang-menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga baris terakhir sajak Chairil makin menyempurnakan kemuraman, rasa perih dan mencekam yang sudah disiapkan Chairil sejak baris pertama itu dalam satu pukulan ironi yang menggambarkan kepasrahan untuk dicincang-cincang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caya menyayat mulut dan mata&lt;br /&gt;Menjengking kereta. Menjengking jiwa.&lt;br /&gt;Sayatan terus ke dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang atau Solo, dua kota yang dibayangkan sebagai tempat untuk “menangkup senja” dan “menguak purnama”, ternyata “sengaja didatangi” justru untuk membiarkan diri, mulut dan mata disayat ca(ha)ya, sayatan yang begitu kuat sampai-sampai mampu menjengkingkan kereta dan jiwa. Di situlah irononya bercokol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frase “sengaja didatangi” itu tidak berlebihan karena –cukup jelas—Chairil di situ memang mengajak pembaca untuk mengikuti pengalaman visual dibekap gerbong kereta yang dibekam hujan yang menebali jendela dan juga disayat-sayat oleh cahaya yang mampu menjengkingkan jiwa. Dan Chairil melakukannya dengan perlahan-lahan, sabar dan mengimbuhinya dengan beberapa ketidakpastian kecil (soal kota tujuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perlahan-lahan pembaca diajak merasakan suasana pedih dan perih yang sedetik demi sedetik makin menyayat-nyayat, dari mulai mata… mulut… lantas terus turun menyayati dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumput kesan masokisme di situ; tentang Chairil yang mengajak pembaca menikmati segala pengalaman pedih dan perih yang menghunjam dengan perlahan namun dengan tingkat kepastian yang --tak bisa diragukan—akan terus merambat hingga dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Chairil memercayakan semua lakon (bernada) masokis itu dipanggungkan di atas gerbong-gerbong kereta, bukan truk atau sedan atau kapal laut. Kenapa dengan kereta? Selain soal fakta bahwa Chairil sering bepergian ke kota-kota yang jauh dengan kereta dan arti penting kereta pada zaman itu, adakah alasan lain kenapa Chairil memilih kereta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu pastinya. Tapi, seturut pengalaman saya, kereta memang jauh lebih memungkinkan pengalaman mencekam dan liris itu ditelan dalam dada, lebih dari kapal laut atau pesawat terbang apalagi mobil. Ada sesuatu yang khusus dari kereta –sesuatu yang saya khawatir tak bisa menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jika boleh berbagi pengalaman, saya selalu merasa kereta memiliki ruang yang memungkinkan imajinasi lebih leluasa berkembang. Bentuk kereta, yang memanjang dari satu gerbong ke gerbong lainnya dan masih memungkinkan orang melihat gerbong-gerbong di depan atau di belakang, rasanya sering menghadirkan suasana seperti sedang berada di sebuah lorong yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, lorong panjang itu selalu mentok di badan lokomotif. Di luar pesawat terbang (yang pada masa Chairil belum populer sebagai koda transportasi umum), nyaris semua kendaraan pada masa itu memungkinkan penumpang menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan. Kita hanya bisa melihat gerbong-gerbong di depan, tapi kita tak akan pernah bisa melihat apa yang sedang menghadang di depan lokomotif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kereta memungkinkan penghayatan terhadap ketidakpastian muncul dalam kadar yang lebih kuat; situasi tak menentu, fana dan hanya memungkinkan kita pasrah pada kewaspadaan masinis, karena penumpang kereta tak bisa mengingatkan masinis jika ada sesuatu yang berbahaya di depan sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para penumpang kereta tak pernah bisa untuk bersiap lebih dulu menghadapi bencana, rel yang patah atau jembatan yang rengkah karena penumpang memang tak pernah tahu apa yang terjadi di depan sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu-tahu dan tiba-tiba, gerbong yang kita tumpangi anjlok atau bahkan terguling ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4572732568296581902-3588689292964342281?l=chairilanwarindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/3588689292964342281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4572732568296581902&amp;postID=3588689292964342281' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/3588689292964342281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/3588689292964342281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/2008/04/kereta.html' title='Kereta'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902.post-6215475828238856035</id><published>2008-04-27T14:53:00.000-07:00</published><updated>2008-04-27T15:27:16.273-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mereka Mengenangku'/><title type='text'>Sebuah Ingatan untuk Chairil</title><content type='html'>oleh &lt;a href="http://ridwan-munawwar.blogspot.com/2008/04/sebuah-ingatan-untuk-chairil-anwar-1922.html"&gt;Ridwan Munawwar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;Ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt;Tidak juga kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;Ku tetap meradang, menerjang&lt;br /&gt;Luka dan bisa kubawa berlari, berlari&lt;br /&gt;Hingga hilang pedih perih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;(1943)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin betul: puisi serius yang pertama kali saya baca waktu kecil adalah puisi karya satu-satunya penyair Indonesia yang patungnya dipajang di depan Monumen Nasional: Chairil Anwar. Bertemu dengan puisi-puisinya, tentu saja di sekolahan (SD). Saat itu sekitar tahun 1994-an. Saya lupa lagi, kelas berapa saya waktu itu. Puisinya yang saya kenal pertamakali adalah “Krawang-Bekasi”, setelah itu saya kenal juga dengan puisi “Dipenogoro”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan saya terhadap puisi Chairil saat itu memang bukan kekaguman, sebab bagaimana anak kecil seperti saya tahu puisi? Tapi naluri saya cukup dapat menangkap sesuatu yang lain pada karya itu; hening dan kelam. Hampir tak dapat dilukiskan. Sebuah suasana lain dan baru yang berporos pada sesuatu yang sama dari yang disajikan oleh bacaan-bacaan saya umumnya pada masa itu; cinta bangsa, cinta Indonesia. Majalah anak “Si Kuncung”, novel-novel anak dan remaja keluaran Balai Pustaka semacam “Anak-anak Laut”, “Anak Laut Kembali Ke Laut”, cerita-cerita pahlawan, dan masih banyak lagi bacaan semacam itu yang rata-rata saya curi dari perpustakaan SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bacaan-bacaan itu menanamkan rasa cinta Indonesia dalam nuansa bahasa yang akrab dengan dunia anak-anak, maka kehadiran aura puisi Chairil adalah penanda tertentu dari waktu “perasaan zaman” saya untuk masa yang akan datang. Jadi ia memang futuristik, setidaknya saya merasakannya dalam sejarah pribadi saya sendiri. Dan saya kira bukan tanpa maksud pula bahwa karya-karya Chairil dimasukan ke dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak masa SMP, karya-karya Chairil yang saya kenal selanjutnya adalah puisi “Aku”. Meski samar, namun sempat terbetik keheranan dalam benak saya; bagaimana mungkin ada orang yang demikian jujur dan lugas (atau mungkin bangga) mengaku dirinya “binatang jalang”, apalagi “dari kumpulannya yang terbuang”. Kata-kata “jalang” dan semacamnya adalah hal yang saya pikir tabu atau kurang sopan. Tentu saja, sebab saya terdidik di dalam ruang masyarakat sunda yang penuh dengan tata norma moral yang lumayan ketat. Meski demikian, saya agak mengerti juga bahwa itu metafora atau konotasi. Nah, momen mengenal metafora itu mau tidak mau menciptakan kontradiksi tertentu dengan ingatan didikan normatif dalam benak saya.&lt;br /&gt;Maka saya mulai menilai bahwa Chairil ini orang yang aneh, yang kontroversial terhadap karakter bangsa Indonesia yang konon memuja adat dan pakem norma itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anehnya lagi, kok bisa ya orang yang aneh macam ini karyanya dijadikan kanon dalam kesusasteraan nasional negara kita ini? Apa yang sesungguhnya terjadi? Mungkinkah Chairil memang—seperti yang sering diungkapkan Kahlil Gibran tentang puisi dan penyairnya—telah melampaui zamannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab mungkin nilai neologis dari sebuah puisi erat kaitannya dengan watak sintesa budaya yang puisi itu sendiri. Para kritikus sastra kawakan bilang, dalam puisi Chairil terdapat guratan dari watak rasionalisme Barat, juga memiliki kecenderungan watak eksistensialistik. Di tangan Chairil, bahasa dan sastra Indonesia menemukan jeda kedewasaannya dengan membaca karakter budaya lain, yakni Barat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kontkes yang paling sederhana, watak khas puisi Chairil yang terbilang baru dan agak “nyeleneh” itu menyimpan isyarat tersendiri yang tentunya merupakan suatu kontribusi bagi pertumbuhan kepribadian manusia-manusia Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak tahu dengan pasti apa sebenarnya yang dibaca dengan cermat oleh Chairil dari dunia Barat. Yang saya rasakan, puisinya justru mencandra ke dalam “sesuatu bernama Indonesia” dengan suatu semangat baru yang sarat dengan harapan eksistensial yang resah, kelam namun juga jujur dan melegakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saat duduk di SMA, saya bertemu dengan novel “Kepundan”—entah siapa pengarangnya—yang saat itu dimuat bersambung di harian Republika, saya mulai tahu apa yang disebut “cara pandang” dan “kekuatan individu”. Dalam novel itu diceritakan seorang tokoh siswa SMA bernama Ivan Illich yang menentang gurunya yang menuduh bahwa puisi “Aku” Chairil Anwar adalah puisi yang jelek, terutama untuk kalangan pemuda lantaran semangat individualistiknya yang bisa membuat para pemuda menjadi a-sosial. Maka sang tokoh pun maju ke depan kelas seraya membacakan puisi “Aku” itu dengan suatu deklamasi yang “beda” dan elegan serta kemudian bertanya secara retoris kepada gurunya “nah, dimana letak nilai individualistiknya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi watak individualitas apa yang sesunguhnya yang dihembuskan oleh nafas puisi Chairil itu?&lt;br /&gt;Entah mengapa saya tiba-tiba teringat pada konsep individu pada zaman romantik Eropa, yakni individu sebagai subjek yang memiliki suatu universalitas di dalam dirinya. Individu yang “menyemesta”, sehingga dirinya mampu menjadi pucuk dari kehidupan komunitas sosialnya.&lt;br /&gt;Dan untuk periode hidup saya yang sekarang, saya ingin memiliki semangat dan keteguhan seperti itu. Meski mungkin saya barulah sekedar “pelajar puisi”. Dan saya yakin, tidak mustahil ruh puisi semacam itu bisa hadir dan tumbuh dalam sejarah hidup saya. Puisi yang tidak harus dengan kata-kata tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta, 28 April 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4572732568296581902-6215475828238856035?l=chairilanwarindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/6215475828238856035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4572732568296581902&amp;postID=6215475828238856035' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/6215475828238856035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/6215475828238856035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/2008/04/sebuah-ingatan-untuk-chairil.html' title='Sebuah Ingatan untuk Chairil'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902.post-1435070698200594740</id><published>2008-01-28T05:08:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T04:31:02.425-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Aku</title><content type='html'>&lt;font class="”fullpost”"&gt;Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;Ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt;Tidak juga kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;Aku tetap meradang&lt;br /&gt;menerjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka dan bisa kubawa berlari&lt;br /&gt;Berlari, hingga hilang pedih perih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1943&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4572732568296581902-1435070698200594740?l=chairilanwarindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/1435070698200594740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4572732568296581902&amp;postID=1435070698200594740' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/1435070698200594740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/1435070698200594740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/2008/01/aku.html' title='Aku'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902.post-8948945805657421929</id><published>2008-01-28T04:21:00.000-08:00</published><updated>2008-01-28T04:25:31.840-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Derai-derai Cemara</title><content type='html'>cemara menderai sampai jauh&lt;br /&gt;terasa hari akan jadi malam&lt;br /&gt;ada beberapa dahan di tingkap merapuh&lt;br /&gt;dipukul angin yang terpendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sekarang orangnya bisa tahan&lt;br /&gt;sudah berapa waktu bukan kanak lagi&lt;br /&gt;tapi dulu memang ada suatu bahan&lt;br /&gt;yang bukan perhitungan kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup hanya menunda kekalahan&lt;br /&gt;tambah terasing dari cinta sekolah rendah&lt;br /&gt;dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan&lt;br /&gt;sebelum pada akhirnya kita menyerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   1949&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4572732568296581902-8948945805657421929?l=chairilanwarindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/8948945805657421929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4572732568296581902&amp;postID=8948945805657421929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/8948945805657421929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/8948945805657421929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/2008/01/derai-derai-cemara.html' title='Derai-derai Cemara'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4572732568296581902.post-9107616737527284829</id><published>2008-01-28T03:52:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T07:58:09.133-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkenalan'/><title type='text'>Aku Datang, Puisi Indonesia</title><content type='html'>Puisi Indonesia hari ini sedang terancam dekadensi. Hanya segelintir saja dari penyair Indonesia masa kini, masa komunikasi dan over-demokrasi ini, yang mampu terus berkarya dengan konsistensi dalam gelanggang yang semakin berubah.&lt;br /&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari kuburku di Karet. Kuobrak-abrik pusara batu menjijikkan itu, dan kuusir cacing-cacing tanah dari jasadku (aku terlalu mulia untuk mereka), dan aku datang lagi ke gelanggang puisi Indonesia hari ini, sebagai penyelamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang untuk menyelamatkan harga diri sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;Chairil Anwar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4572732568296581902-9107616737527284829?l=chairilanwarindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/feeds/9107616737527284829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4572732568296581902&amp;postID=9107616737527284829' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/9107616737527284829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4572732568296581902/posts/default/9107616737527284829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chairilanwarindonesia.blogspot.com/2008/01/aku-datang-puisi-indonesia.html' title='Aku Datang, Puisi Indonesia'/><author><name>Chairil Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09546551935612123836</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
